Kepada Instagram, Facebook, TikTok dan Twitter,

Kami mewakili 14.000 anak perempuan dari 22 negara yang berbicara dengan Plan International tentang pelecehan online. Kami mendesak Anda untuk bekerja sama dengan kami, dalam upaya menghentikan pelecehan online di platform media sosial Anda.

Kami menyukai platform Anda, yang sudah menjadi bagian besar dari kehidupan kami sehari-hari. Kami menggunakan media sosial Anda tidak hanya hanya untuk berinteraksi dengan teman, tapi juga untuk menyampaikan gagasan dan mendorong perubahan. Tapi, platform ini tidak aman untuk kami. Kami dilecehkan saat kegiatan beraktivitas online. Setiap Hari.

Kami diancam secara fisik, kami disinggung terkait SARA, dilecehkan secara seksual, dan tubuh kami dicela. Kekerasan online ini serius. Ini benar-benar membahayakan dan membungkam suara kami.

Saat pandemik, kehidupan kami semakin intensif di dunia online. Ini meningkatkan kerentan kami terhadap kekerasan online lebih besar daripada sebelumnya.

Apakah Anda pernah mendengar bahwa 50% dari kami mengalami lebih banyak pelecehan online daripada pelecehan di ruang publik lain? Akibatnya 42% dari kami menjadi rendah diri dan kehilangan kepercayaan diri.  

Kami diberitahu, ‘jika kami tidak bisa menangani pelecehan online, kami dipersilakan tidak berada di media sosial’. Ini tidak adil. Harusnya, kami tidak perlu mengecilkan dan mengasingkan diri kami dari sistem yang tidak adil ini. Dunia harus berhenti menormalkan kekerasan online.

Kami tahu banyak dari Anda yang mengambil langkah untuk membuat platform Anda lebih aman – itu luar biasa, terima kasih banyak!  

Tapi untuk saat ini, itu belum cukup.

Anak perempuan, dengan segala keragaman kami, perlu tahu bahwa ketika kami dilecehkan dan diancam secara online, kami dapat melaporkannya dan Anda akan mengambil tindakan.

Solusi dari kami? Gabung dan dukung kami! Bicara dengan kami! Dengarkan pengalaman kami! Bekerja dengan kami untuk membuat mekanisme pelaporan yang lebih kuat untuk menangani pelecehan online yang bisa memenuhi kebutuhan anak perempuan dan menuntut pertanggungjawaban pelaku.

Sekarang, waktunya kita bergerak agar anak perempuan bisa aman dan nyaman berekspresi di media sosial, #FreeToBeOnline.

Kami akan menunggu panggilan Anda.

Dengan hormat,

Zahra, 17, Finland,
Madjidath, 20, Benin
Yande, 16, Zambia,
Neha, 18, Nepal
Deisy, 18, Colombia,
Sessi, 22, Benin
Serta perwakilan dari anak-anak Indonesia

Tanda tangangani surat terbuka ini untuk mendukung!